Sepak Bola

Kandidat Pengganti Thomas Frank di Tottenham, Dari Xabi Alonso hingga Xavi

Kandidat Pengganti Thomas Frank di Tottenham, Dari Xabi Alonso hingga Xavi

Tottenham Hotspur kembali berada di persimpangan jalan. Kekalahan 1-2 dari Newcastle United menjadi titik akhir perjalanan Thomas Frank di London utara. Manajemen klub akhirnya mengambil keputusan tegas: berpisah dengan pelatih asal Denmark tersebut.

Frank baru ditunjuk pada Juni lalu setelah meninggalkan Brentford. Ia datang membawa reputasi sebagai pelatih yang mampu membangun stabilitas dan struktur tim yang solid. Namun, ekspektasi besar tak berjalan seiring dengan hasil di lapangan.

Kini Spurs harus bergerak cepat. Posisi mereka terperosok ke peringkat 16 klasemen sementara dengan 29 poin, hanya terpaut lima angka dari zona degradasi. Sebelas kekalahan liga menjadi alarm keras bagi klub yang musim lalu sempat mengangkat trofi Liga Europa di era Ange Postecoglou.

Derby melawan Arsenal sudah di depan mata. Kursi pelatih kosong tak boleh terlalu lama dibiarkan. Berikut kandidat kuat yang dinilai layak menggantikan Thomas Frank di Tottenham.

Xabi Alonso, Opsi Elite dengan Mental Juara

Nama pertama yang langsung mengemuka adalah Xabi Alonso.

Pelatih asal Spanyol itu meninggalkan Real Madrid pada Januari melalui kesepakatan bersama setelah hubungan dengan ruang ganti disebut memburuk. Kepergiannya memang mengejutkan, mengingat ia baru ditunjuk pada Mei sebelumnya.

Namun reputasi Alonso tak dibangun di Madrid. Puncak kredibilitasnya tercipta bersama Bayer Leverkusen. Ia membawa klub tersebut menjuarai Bundesliga 2023/24 tanpa terkalahkan — sebuah pencapaian bersejarah. Tak hanya itu, Leverkusen juga menyabet DFB-Pokal dan DFL-Supercup serta mencapai final Liga Europa.

Alonso dikenal sebagai pelatih modern dengan pendekatan taktis fleksibel dan kemampuan membangun struktur permainan dari belakang. Ia juga sempat dikaitkan dengan Liverpool sebelum akhirnya menerima tawaran Madrid.

Spurs membutuhkan figur dengan aura kepemimpinan dan mental pemenang. Alonso jelas masuk kategori tersebut.

Roberto De Zerbi, Arsitek Sepak Bola Progresif

Pilihan kedua jatuh pada Roberto De Zerbi.

Pelatih asal Italia itu baru saja berpisah dengan Marseille setelah hasil buruk, termasuk kekalahan telak 0-5 dari Paris Saint-Germain. Namun, reputasinya tetap tinggi di Inggris.

De Zerbi mengambil alih Brighton pada 2022 menggantikan Graham Potter dan berhasil melanjutkan fondasi yang sudah ada. Bersama Brighton & Hove Albion, ia membawa klub finis keenam di Premier League dan menembus kompetisi Eropa.

Di bawah arahannya, pemain seperti Moises Caicedo, Alexis Mac Allister, dan Kaoru Mitoma berkembang pesat dan menjadi aset bernilai tinggi.

Filosofi sepak bola berbasis penguasaan bola, build-up berani dari belakang, serta pressing agresif membuatnya cocok untuk proyek jangka menengah Spurs.

Xavi, Sentuhan Barcelona di London Utara

Nama berikutnya adalah Xavi.

Legenda Barcelona itu memulai karier kepelatihan di Qatar sebelum kembali ke Camp Nou pada 2021. Ia sukses mempersembahkan gelar La Liga pertama bagi Barcelona dalam empat tahun serta Piala Super Spanyol.

Musim 2022/23 menjadi bukti kematangan taktiknya. Barcelona hanya kebobolan 20 gol sepanjang musim liga, menunjukkan keseimbangan antara gaya menyerang khas Spanyol dengan organisasi pertahanan solid.

Xavi meninggalkan Barcelona pada Mei 2024 setelah terjadi perbedaan visi dengan presiden klub. Saat ini ia masih tanpa jabatan.

Ia dikenal berani memberi ruang kepada pemain muda. Salah satu keputusan bersejarahnya adalah memberikan debut kepada Lamine Yamal saat berusia 15 tahun. Bagi Spurs yang memiliki sejumlah talenta muda, pendekatan ini bisa menjadi nilai tambah signifikan.

Profil yang Dibutuhkan Spurs

Tottenham tidak hanya membutuhkan pelatih baru. Mereka membutuhkan arah baru. Musim ini memperlihatkan inkonsistensi taktik, rapuhnya lini pertahanan, serta kurangnya karakter dalam momen-momen krusial.

Dengan jarak tipis dari zona degradasi, target realistis saat ini adalah mengamankan posisi sebelum kembali membangun ambisi Eropa musim depan.

Profil ideal bagi Spurs adalah:

  • Berpengalaman di liga top Eropa
  • Mampu mengembangkan pemain muda
  • Memiliki filosofi permainan jelas
  • Bermental kompetitif dalam tekanan

Nama-nama seperti Alonso, De Zerbi, dan Xavi menawarkan kombinasi tersebut dengan karakter berbeda.

Tottenham Harus Bergerak Cepat

Derby kontra Arsenal akan menjadi ujian mental berikutnya bagi skuad Spurs. Tanpa nahkoda tetap, risiko kehilangan momentum semakin besar.

Manajemen tak punya banyak waktu untuk mempertimbangkan opsi. Keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan bisa menentukan arah klub dalam beberapa musim mendatang.

Apakah Spurs berani menggaet pelatih kelas elite? Atau memilih proyek jangka panjang dengan sentuhan progresif?

Yang pasti, era Thomas Frank telah berakhir. Kini Tottenham harus memastikan bab berikutnya tidak kembali menjadi cerita kegagalan.

Exit mobile version