rajagawang.id– Mantan pelatih ganda putra pelatnas PBSI, Aryono Miranat, berharap kekecewaan tim putra Indonesia di ajang Thomas Cup 2026 tidak berlarut-larut. Menurutnya, hasil pahit di fase grup harus dijadikan pelajaran penting untuk menatap kompetisi berikutnya.
Tim bulu tangkis putra Indonesia harus menerima kenyataan pahit setelah gagal melangkah ke babak perempat final. Hasil ini menjadi catatan buruk bagi skuad Merah Putih di turnamen beregu paling prestisius tersebut.
Kekalahan dari Prancis Jadi Titik Balik Buruk
Indonesia takluk dari Prancis dengan skor telak 1-4 pada laga terakhir Grup D yang berlangsung di Forum Horsens, Selasa (28/4/2026).
Kekalahan ini menjadi penentu gagalnya Indonesia lolos ke fase gugur. Bahkan, hasil tersebut menciptakan sejarah buruk karena untuk pertama kalinya Indonesia tersingkir sejak fase grup di ajang Thomas Cup.
Sebagai negara dengan koleksi 14 gelar juara, terbanyak sepanjang sejarah, hasil ini tentu menjadi pukulan besar bagi tradisi bulu tangkis Indonesia.
Sektor Tunggal Putra Gagal Menyumbang Poin
Salah satu sorotan utama adalah performa sektor tunggal putra. Tidak ada satu pun pemain yang mampu menyumbang angka bagi Indonesia.
Jonatan Christie, Alwi Farhan, dan Anthony Sinisuka Ginting semuanya menelan kekalahan.
Mereka harus mengakui keunggulan trio tunggal terbaik Prancis saat ini, yakni Christo Popov, Alex Lanier, dan Toma Junior Popov.
Kondisi ini membuat Indonesia tertinggal cepat dan memberikan tekanan besar pada sektor lainnya.
Ganda Putra Tak Tampil Maksimal
Sektor ganda yang selama ini dikenal sebagai kekuatan utama Indonesia juga gagal menunjukkan performa terbaik.
Pasangan Sabar Karyaman Gutama / Moh Reza Pahlevi Isfahani tampil di bawah ekspektasi saat menghadapi pasangan ranking 52 dunia, Eloi Adam / Leo Rossi.
Perbedaan ranking yang jauh justru tidak menjadi keuntungan. Kekalahan mereka menjadi penentu tertutupnya peluang Indonesia ke perempat final.
Prancis sendiri memang membutuhkan minimal empat kemenangan dalam laga tersebut, dan berhasil mewujudkannya dengan performa impresif.
Aryono Soroti Mental dan Tekanan Pertandingan
Aryono Miranat menilai Prancis memang sedang berada dalam momentum terbaik. Kepercayaan diri mereka meningkat pesat setelah menjuarai Kejuaraan Eropa 2026.
Menurutnya, faktor psikologis juga memengaruhi performa Indonesia, khususnya pada laga penentu sektor ganda.
Ia menilai Sabar/Reza sebenarnya bermain cukup baik, namun tekanan besar karena harus menang demi menjaga peluang lolos membuat mereka tidak bisa tampil lepas.
Sementara itu, pasangan ganda kedua Prancis tampil tanpa beban karena tim mereka sudah unggul 3-0, sehingga bisa bermain lebih percaya diri.
Harus Bangkit dan Percaya pada Regenerasi
Di balik kegagalan ini, Aryono berharap seluruh tim menjadikannya sebagai pembelajaran berharga.
Ia menegaskan bahwa rasa kecewa tentu ada, tetapi tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Fokus harus segera dialihkan ke turnamen berikutnya.
Tahun 2026 masih menyisakan kesempatan besar, termasuk ajang beregu di Asian Games 2026.
Menurut Aryono, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memberi kesempatan lebih besar kepada pemain muda agar pengalaman mereka semakin matang.
Menatap Masa Depan dengan Semangat Baru
Sebagai sosok yang pernah membawa Indonesia meraih gelar Thomas Cup 2020, Aryono menekankan pentingnya menjaga semangat juang dan kekompakan tim.
Ia juga mendorong agar proses regenerasi terus dilakukan demi menyiapkan skuad yang lebih kompetitif di masa depan.
Kegagalan di Thomas Cup 2026 memang menyakitkan, tetapi perjalanan belum berakhir. Dengan evaluasi menyeluruh, mental yang kuat, dan kepercayaan kepada generasi muda, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk kembali berjaya di pentas dunia.
