Alwi berhasil menjuarai turnamen level Super 500 itu setelah mengalahkan wakil China, Dong Tian Yao, dalam dua gim langsung dengan skor 21-13, 21-13 pada laga final.
Julukan “King Crab” dari Penggemar China
Selain keberhasilannya meraih gelar, gaya bermain Alwi juga menjadi bahan perbincangan di kalangan pecinta bulu tangkis Negeri Tirai Bambu. Mereka bahkan memberikan julukan “King Crab” atau “Raja Kepiting” karena karakteristik permainannya di lapangan.
Menanggapi julukan tersebut, Alwi mengaku tidak mempermasalahkannya.
“Terima kasih kepada yang memberi julukan itu. Jujur, saya tidak akan mengubah diri saya. Orang mau membicarakan saya seperti apa, silakan saja,” ujar Alwi kepada awak media di Pelatnas Cipayung, Jakarta.
Menurutnya, julukan tersebut justru menjadi identitas unik yang melekat pada dirinya.
“Cara bermain saya seperti kepiting atau apa, terserah. Yang penting itu menjadi ciri khas dari diri saya sendiri. Terima kasih kepada netizen China, apalagi saya kemarin bisa mengalahkan pemain China. Alhamdulillah,” katanya sambil tersenyum.
Rekam Jejak Gemilang Melawan Pemain China
Kesuksesan Alwi mengalahkan pemain-pemain China bukanlah hal baru. Dalam perjalanan kariernya, ia beberapa kali mampu menaklukkan wakil Negeri Tirai Bambu di berbagai turnamen internasional.
Salah satu pencapaian terbesar Alwi terjadi saat menjadi juara dunia junior 2023. Kala itu, ia mengalahkan wakil China, Hu Zhe An, melalui pertandingan tiga gim dengan skor 21-19, 19-21, 21-14.
Kemenangan tersebut sekaligus mencatatkan sejarah karena Alwi menjadi tunggal putra Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar juara dunia junior.
Bantah Anggapan Hanya Cocok Melawan Pemain Tertentu
Meski sering menang atas pemain China, Alwi tidak sepakat jika dirinya dianggap memiliki keunggulan khusus menghadapi pemain dari negara tersebut atau kurang cocok melawan pemain Jepang.
“Sebenarnya saya kurang setuju kalau dibilang saya sering mengalahkan pemain China dan tidak suka menghadapi pemain Jepang yang banyak reli. Tidak seperti itu,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa setiap pertandingan bergantung pada karakter individu pemain, bukan asal negaranya.
Menurut Alwi, banyak orang hanya melihat hasil pertandingan tanpa mengetahui perjuangan besar yang dilakukan seorang atlet dalam kesehariannya.
“Saya sering merasa kasihan kepada A’ Ginting. Beliau sudah berusaha semaksimal mungkin, tetap berkomitmen meski sudah memiliki banyak prestasi, usia yang tidak lagi muda, dan kini juga sudah berkeluarga.”
Alwi menilai perjuangan seorang atlet profesional tidaklah mudah karena harus terus menjaga komitmen, menjalani latihan, dan menghadapi berbagai tantangan yang tidak selalu terlihat oleh publik.
“Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya. Padahal proses yang dijalani setiap hari jauh lebih berat dari yang dibayangkan.”
Sujud Syukur Jadi Bentuk Kepasrahan kepada Tuhan
Selain dikenal dengan gaya bermainnya, Alwi juga kerap melakukan sujud syukur setiap kali meraih kemenangan penting.
Menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk rasa syukur dan kepasrahan kepada Allah SWT atas segala proses yang telah dijalani.
“Saya sangat berserah kepada Allah SWT karena merasa tidak bisa menanggung semuanya sendiri. Saat mengikuti turnamen, saya hanya fokus melakukan yang terbaik dalam persiapan. Selebihnya saya serahkan kepada Tuhan,” ungkapnya.